Ada Mimpi Yang Terpendam, Untuk Keluarga Pendidikan Alfian Kesampingkan

0
7

Lampungtengah–Hati siapa yang tidak terenyuh, Melihat perjuangan remaja 16 Tahun asal Lampung Tengah ini.

Tidak seharusnya, Dimasa emasnya ia harus berjibaku melawan kerasnya kehidupan ini membanting tulang demi sesuap nasi untuk Ibu dan ketiga adiknya.

Tinggal di bekas kandang Sapi, yang dirasa bak istana sang raja yang berkuasa. Berdinding papan dan berlantaikan tanah, Tapi demi keberlangsungan hidup apa pun itu harus ia terima.

Seharusnya, Masa ini dibangku sekolah lah tempat ia menimba ilmu, mengejar mimpi untuk mengapai cita-cita.

Namun hal itu tidak berlaku bagi Alfian (16) warga Kampung Tanjung Anom, Kecamatan Terusan Nunyai, Lamteng.

Ya, disaat teman-teman sebayanya tengah mengenyam pendidikan, remaja ini justru memupus asanya dan harus menjadi tulang punggung keluarga.

Sejak ditinggal sang ayah satu tahun silam tanpa pesan yang jelas, Alfian menjadi tumpuan keluarga untuk bertahan hidup.

Tidak lah mudah bagi remaja 16 tahun ini untuk menghidupi ibu dan ketiga adik-adiknya, Puput (8), Afika (6), dan Qhaila (2)

Tinggal di rumah berdinding papan dan beralaskan tanah bekas kandang sapi, Alfian harus mengais rejeki dari upah jasanya sebagai mekanik disalah satu bengkel setempat.

“Enggak mesti dapat duit, sehari paling duapuluh lima sampai empat puluh ribu,”kata Alfian saat wartawan menyambangi kediamannya, Rabu 28 Agustus 2019

Sempat terbesit dalam keinginannya untuk melanjutkan sekolah, namun keadaan memaksanya untuk mengurungkan niat itu.

“Kalau liat anak-anak sekolah saya rasanya pingin sekolah lagi. Tapi kalau saya sekolah gimana ibu sama adik-adik,?,”urainya.

Hal tersedih lanjut remaja yang mengenyam pendidikan akhir STM (setengah semester) di Magelang ini, disaat kedua adiknya Puput dan Afika hendak berangkat kesekolah,”Sedih kalau adik sekolah enggak ada sangu (uang jajan),”ujarnya

Namun lanjut Fian, ia tetap tegar dengan keadaan saat ini. Yang ada didalam benaknya saat ini ialah bagaimana adik-adiknya tetap dapat melanjutkan sekolah.

“Harapan saya adik-adik jangan putus sekolah, saya akan berjuang semampu saya demi keluarga,”ucapnya.

Sementara Mistiani (39) sang ibu mengaku untuk membantu putranya ia pun bekerja serabutan, namun pekerjaan itu tak selalu setiap hari ia dapati.

“Sekarang cuma ngandalin dari anak (Fian), kalau ada kerjaan disuruh tetangga mencuci, nyetrika ya saya karja, tetapi enggak setiap hari itu ada,”ungkapnya.

Hanya dengan mengandalkan penghasilan dari putranya yang pas-pasan, tak jarang keluarga ini harus berpuasa.”Kadang makan kadang tidak, kalau tidak ada (nasi) ya makan singkong,”ceritnya lirih

Sementara Kepala Kampung Tanjung Anom Wasis Terisno Hadi membenarkan, tempat tinggal keluarga Mistiani bekas kandang sapi.”Tanahnya numpang, kalau bangunan bekas kandang sapi, sudah sekitar satu tahun tinggl disini”jelasnya.

Sebagai aparatur kampung lanjutnya, pihaknya sudah berkali-kali mengajukan agar keluarga ini dapat menerima, PKH namun sayang sampai saat ini belum terealisasi,”Sudah kita ajukan tetapi masih menunggu validasinya, sehingga belum bisa,”akunya

Kedepan kata Wasis untuk sedikit meringankan beban keluarga tersebut, ia bakal melakukan bedah rumah milik Mistiani itu.”Langkah kedepan kita akan bedah rumah dengan cara swadaya,”pungkasnya. (Iswan)